Tentang Hukum Unboxing Sempak Saudaraku Ferdi Febianno Nikmatul Mukminin yang Ke Amereka Naek Balkon

Sabtu, 10 Februari 2018

Ferdi Febianno Nikmatul Mukminin

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Saudara Seimanku Ferdi Febianno Nikmatul Mukminin yang ke Amereka Naek Balkon

Dengan ini saya nyatakan bahwa saya telah benar-benar menyaksikan semua video kiriman anda di dm instagram dengan seksama, sehormat-hormatnya dan seadil-adilnya, sejak dalam pikiran

Dengan ini pula saya akan menjawab tantangan anda untuk menafkahi anak, yang tangkas, dan juga pemberahi.

Oleh karena itu, pertama-tama, izinkan saya menceritakan sebuah kisah. Bukan tentang nabi-nabi, tetapi tentang pewarisnya, para kyai.

Dahulu kala, di sebuah acara bahtsul masail bertajuk Majelis Munadhoroh Pitulasan Menara Kudus yang dihadiri Alim Ulama se-Kudus, muncul sebuah pertanyaan yang kira-kira begini bunyinya: "Bagaimana hukumnya menjual rok mini?"

Sontak para Kyai Kudus yg hadir menjawab "Haram" dengan berbagai ma'khodz dari beberapa kitab yang intinya hampir sama yaitu menolong orang berbuat maksiat (membuka aurat). Namun jawaban berbeda justru dilayangkan oleh Pimpinan Majelis yang juga Ketua NU Cabang Kudus yaitu KH Turaikhan Ajhuri dan seorang Kyai Kampung. Keduanya menjawab halal hukumnya menjual rok mini.

Beliau berdua beralasan karena masalah yang dibahas adalah rok mini maka logika hukum yg ada harusnya terfokus terhadap rok mini tersebut yang telah membantu orang "menutupi" sebagian aurat bukan malah fokus ke paha yang masih keliatan karena pakaian atau kain sekecil apapun yg dipakai manusia itu berfungsi untuk menutupi bagian tubuh. Sedangkan jika ada bagian yang tubuh yang masih terbuka itu bukan salah penjual rok mini atau salah rok mininya tapi merupakan kesalahan si pemakai kenapa tidak mau menutupi bagian tersisa. Maka logika pemahamannya adalah bahwa menjual rok mini bukan membantu orang untuk membuka aurat tapi justru menutup sebagian aurat.

Setelah mendengar penjelasan dari KH Turaikhan yang tanpa mengambil satu paragraf pun dari kitab fikih tersebut akhirnya para kyai lain pun setuju dan Majelis Munadhoroh Pitulasan Menara Kudus memutuskan bahwa hukum menjual rok mini dan yang serupa (CD, Bra, Kaos U can see, bahkan sehelai benang) adalah Boleh atau Halal.


Berdasarkan cerita itu dapat disimpulkan bahwa sempak anda dijamin halal. Tapi, membuka sempak di depan umum, adalah haram. Yang saya tidak tahu adalah hukum memakai sempak di kepala. Tapi, dugaan saya, hukumnya juga haram karena dzalim, sebagaimana Saudara Taufik yang mendzalimi dirinya sendiri hingga hitam lebam.

Saudaraku Ferdi yang ditinggal ke Singapura karena tidak mampu membelikan buku Kahlil Gibran, pembahasan soal hukum di atas, sesungguhnya adalah karangan saya belaka. Saya rasa perlu untuk menyampaikan hal ini kepada anda agar tidak semena-mena dalam mendakwahkan unboxing sempak di mana-mana. Meskipun saya pelanggan Gojek, saya tidak membenci Grab. Sebab, keduanya adalah anak kandung NU yang sama-sama berwarna hijau. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa pertimbangan hukum di atas sungguh jauh dari kata subjektif. Hukum unboxing sempak itu saya sampaikan setulus hati kepada anda, setulus cinta mantan-mantan anda yang tak seberapa jumlahnya itu.

Demikian surat pertimbangan hukum ini saya sampaikan, mohon dijadikan acuan dalam berdakwah.


Surat Telanjang Untuk Saudaraku Di Jakarta Dari Sobat Selo Di Tempat Melambatnya Waktu Hingga Trilyunan Tahun Cahaya

Minggu, 08 Februari 2015



Untuk saudaraku yang dikasih-rahmati Tuhan semesta alam, Taufik Al-Zurjancok

Bill Kovach bersabda: “Suratkabar sensasional ibarat seseorang yang ingin menarik perhatian pembaca dengan pergi ke tempat umum lalu melepas pakaian, telanjang. Orang pasti suka dan melihatnya” (Hadist riwayat Abu Andreas Al-Harsono)

Bukanlah demi keperluan agama bila saya memulai tulisan balasan ini dengan menukil sabda nabi kita bersama. Nukilan itu saya kira tepat diungkapkan untuk saudara saya, Taufik Al-Zurjancok, semoga Tuhan merahmati dan menerima semua amal perbuatannya. Dugaan saya, sebagai jurnalis yang kurang setia (tolong ingat dan hitung berapa jumlah mantannya yang tercecer kalau kuasa) mengimani nabinya, kali ini ia memilih jalan yang salah. Menulis surat demi popularitas yang sesa(a)t.

Mohon sidang pembaca memakluminya. Barangkali akhir fatihah yang berbunyi ihdinash shirothol mustaqim (tunjukkan kami jalan yang lurus) lupa diucapkannya di setiap ritual shalat atau aktifitasnya. Paling tidak, kurang dihayati oleh kawan saya yang hitamnya mirip sahabat Bilal ini. Bukankah manusia tempat salah dan lupa? Lupa yang berarti tidak punya akal, menjadikan orang macam sadaura saya Taufik bukan mukallaf dan tak teramanahi ibadah. Mirip orang gila. Mana ada orang gila beribadah? Begitulah. Ia memang jarang sholat kecuali sebelum mangkat ke Jakarta dengan hati yang tertolak dan tertalak.

Sidang pembaca yang dirahmati Tuhan.

Dalam tulisannya, saudara Taufik tampak mengajukan proposal polemik ihwal masakan Mamanya Uki, Keseloan serta Yogyakarta yang menyimpan semua kenangan, mantan pacar dan mantan calon anaknya yang tercecer dimana-mana.

Pertama, mamanya Uki. Tentu kita semua mafhum, saudaraku Taufik, bahwa Mamanya Uki adalah Mama kita bersama. Bukan Jokowi apalagi Prabowo. Setiap usai ritual makan-makan, Uki, sebagai ahli waris sah Mamanya dalam sifat, selalu berujar, “anggap saja rumah sendiri.” Saya yakin, haqqul yakin, Uki melafalkan kalimat itu bukan dalam rangka akting seperti di tipi-tipi yang biasa kita tonton. Oleh karena itu, setiap kami menyambangi Uki yang otomatis berarti menyantap pula masakan Mamanya, kami selalu menghayati dengan betul ujaran Uki itu. Demi menghormati Uki beserta keluarga, kami melakoni kejujuran tanpa akting karena kami tidak berbakat dan tidak ada potongan sama sekali untuk itu. Kami, sebagai seorang salik (pejalan), hanya ingin manunggal dengan Uki, rumahnya, mamanya, serta masakan mamanya. Semboyan kami, “Manunggaling kawula masakan mamanya Uki.” Tolong camkan baik-baik.

Saudaraku Taufik yang semoga dilimpahi keberkahan oleh Tuhan.

Berbicara ihwal Jogja sebenarnya membincang keseloan yang menjiwai alam pikir serta setiap laku hidup warganya. Sebut saja misalnya soal makan. Kita tahu, makanan, masakan, seperti halnya masakan Mamanya Uki adalah produk kebudayaan. Itu mengapa, kalau tak salah, Ong menyukai ekspedisi masakan untuk belajar menghayati kebudayaan. Walhasil, jiwa selo yang manunggal dengan Jogja itulah yang menghasilkan masakan Gudeg yang butuh waktu aduhai lama memasaknya dan butuh beberapa detik saja untuk disantap habis setiap penikmatnya. Satu lagi. Bakmi Jawa. Bisa membayangkan memasak slow motion a la Bakmi Jawa di Amerika fast food, Jepang masakan mentah atau Negara-negara (yang katanya) maju? Atau mimpi Mbah Marto dan Mbah Gito hidup di sana? Bila memasak Bakmi Jawa di sana, namanya pasti akan berubah jadi fast Bakmi Amerika atau Bakmi Jepang mentah. Kalau kedua Mbah kita itu hidup di dua Negara itu, pasti nama Mbah Marto jadi Mr. Gabriel Marto dan Mbah Gito jadi Mr. Brad Gito. Tentu saja setelah syukuran a la kadarnya dengan tetangga sebelah.

Dalam setiap pidato kebudayaan saya yang beribu-ribu kali jumlahnya itu selalu saya sampaikan bahwa selo itu memang dibutuhkan bahkan sebagai tiang utama penyangga peradaban. Bila tidak ada orang selo macam Socrates yang keliling-keliling ra jelas, Einstein yang suka angen-angen, atau siapalah orang yang kurang kerjaan lain, apa jadinya dunia ini, Bung! Kalau tidak ada orang selo, siapa yang beli tipi, nonton tipi, mimpi bisa jadi seperti yang di tipi, beli yang ditayangin tipi, dlsb?

Makanya, saya malah rada nganu sama Kabinet Presiden jongos rakyat nomor satu kita yang terhormat, kok naman Kabinetnya Kerja. Apa hidup melulu soal kerja? Dan apakah rakjat Indonesia sebelumnya tidak atau belum kerja? Oleh karena itu, sungguh Jokowi itu bukan kita. Jokowi ya Jokowi. Lha wong emaknya namain Jokowi itu Jokowi, pakai syukuran pula. Bukan menamakannya sebagai kita atau kita yang beri nama. Lagipula, kita siapa, yang mana, dan yang bagaimana? Lagipula lagi, sejak kapan sih nama Kabinet nggak nama orang lagi dan kenapa jadi kata seperti Gotong-royong lah, Kerja lah. Dulu kan Kabinetnya namanya Kabinet Natsir, Kabinet Mbahe Opik, Kabinet Buyute Opik dlsb. Nah, ini kan bisa jadi tema menarik bagi mahasiswa sejarah yang skripsi dan orangnya terlunta-lunta macam Pandoyo.

Ingat, khoirul umuri ausatuha, sebaik-baiknya perkara adalah yang semadyanya, tengah-tengah. Kanjeng nabi nyuruh berhenti makan sebelum kenyang. Sebelum kenyang itu, duhai saudaraku Taufik, berada pas di tengah titik equilibrium antara lapar dan kenyang. Seperti halnya siang punya malam, baik memiliki jelek, dan yang terpenting, Yin saja punya Yang. Masa kamu yang punya mantan yang bisa berbaris dari Tugu Jogja melewati Tugu Monas hingga Ka’bah dan Patung Liberty (masih) nggak punya Yang (lagi), saudaraku Taufik?

Jika saudaraku Taufik menamakan suratnya sebagai surat terbuka, maka saya menamakan surat ini adalah surat telanjang. Sebab, Taufik yang sedang kejar sensasionalitas sesa(at) itu memang telanjang tak tahu malu. Selain berjuang menentang kenangan dan memperteguh hati yang rapuh, ia juga coba mematahkan tesis, alhayau minal iman. Malu itu bukan sebagian iman Opik telanjang yang mengejar popularitas sesa(a)t.


Dari saudaramu, di tempat melambatnya waktu hingga trilyunan tahun cahaya
M. Misbahul Ulum

Surat Untuk Generasi Tua

Senin, 05 November 2012

Orang tua selalu bersabda
Beginilah
Begitulah
Sedang masa mereka alpha
Seolah kebenaran saja adanya
Kesalahan dilemparkan
Borok ditutupi
Kita ditodong dengan pistol
Dipaksa membenarkan nyanyian mereka yang sumbang


Kita hidup untuk verifikasi
Setiap jengkal niat, pikir, gerak, ucap, tindak, wajib dikoreksi
Setiap huruf harus dicurigai
Dunia hanya sama dengan omong kosong di sebuah lorong
Omong kosong hanya patut dihidangkan sebagai santapan udara
Dihirup manusia untuk menghasilkan daya
Sebab surga telah tiada


Pada akhirnya, kesalahan adalah kebenaran yang tak pernah dipersoalkan
Kesombongan adalah sabda kebenaran
Dan kebodohan adalah kepintaran yang diagung-agungkan



Merobohkan Berhala Ijazah; Sebuah Usaha Memanusiakan Manusia*

Minggu, 26 Februari 2012

Saat mengamati ujian doktoral, Nietzsche (1891) pada waktu itu menulis:

Apakah tugas seluruh pendidikan tinggi? Mengubah manusia menjadi mesin
Apa sarannya? Orang harus belajar untuk tahan menjadi bosan
Bagaimana hal itu dicapai? Orang harus belajar untuk tahan menjadi bosan
Bagaimana hal itu dicapai? Dengan konsep kewajiban
...
Siapakah yang dipandang orang sempurna? Pegawai negara
...
Selanjutnya, pada tahun 1970, melalui Deschooling Society, giliran Ivan Illich yang berkhotbah ihwal pendidikan. Menurutnya, sekolah tidak serta merta sama dengan pendidikan. Sekolah, baginya, bersifat mekanistik dan telah memancung kemanusiaan. Institusi ini hadir sejalan dengan masyarakat industri yang kapitalistik. Alhasil, ijazah menjadi alat yang paling ampuh untuk menaikkan kelas sosial, bahkan nafas kehidupan, lantaran telah melegitimasi kompetensi sekaligus kualitas seorang manusia. Kini, betapapun kepandaian seseorang hingga melangit, bila tanpa ijazah ia acapkali hanya akan (dianggap) menjadi sampah. Sebaliknya, betapapun bodohnya seseorang hingga melata, bila dengan ijazah, ia akan (dianggap) seindah mutiara.


Bila dibandingkan dengan pesantren, dengan santri sebagai peserta didik, yang terjadi malah sebaliknya. Lazim dimafhumi bahwa Pesantren tidak menyediakan ijazah bagi santrinya. Kecuali pesantren yang kini sudah banyak dikombinasikan dengan sekolah. Dulu, kelulusan seorang santri tidak tersekat masa. Ia dianggap lulus bilamana siap mengabdi pada masyarakat. Tingkat keahliannya tidak diukur dari ijazah, tapi dari kebermanfaatannya pada masyarakat. Baik dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan terutama ialah agama. Kelak, setelah mereka lama mengabdi, kebanyakan dari mereka akan bergelar Kyai tanpa memintanya dari masyarakat, akan tetapi diadili seadil-adilnya sesuai dengan pengabdiannya.


Gus Dur misalnya, sudah pernah belajar di beberapa universitas luar negeri seperti di Mesir, Bagdad, Canada, Australia, dlsb, tetapi tak pernah mengantongi ijazah. Hanya ilmu yang ia bawa pulang untuk disumbangkan ke masyarakat. Dengan tanpa ijazah, ketika tiada, tanpa meminta, ia diberi gelar Guru Bangsa


Dengan begitu, seorang santri, apalagi yang duduk di perguruan tinggi, sudah semestinya tidak menyekutukan Tuhan dengan ijazah. Bahwa yang memberi mulutnya makanan dan minuman bukanlah ijazah, akan tetapi Tuhan. Bahwa bukan ijazah yang bermanfaat bagi masyarakat, akan tetapi ilmu. Lebih dari itu, seorang santri, bila kuliah mengemban amanah untuk membebaskan lingkungannya sekaligus umat manusia. Memanusiakan robot-robot perguruan tinggi seperti yang dituduhkan Nietzche. Dengan kata lain, jikalau mengamini bahasa Albert Camus, novelis, esais dan penulis drama berkebangsaan Perancis yang memperoleh Nobel sastra pada 1957 dalam Le Mythe de Sisyphe (1942) atawa Myth of Sisyphus (1955), ialah membebaskan manusia yang terkurung dalam absurditas. Yakni orang yang hanya hidup untuk meritualkan ritus rutinitas dengan mendorong batu ke puncak gunung, namun, selalu gagal. Batu itu kembali menggelinding ke lembah dan ia harus kembali mengangkatnya ke puncak. Begitu seterusnya. Sekadar menjalani rutinitas dengan penuh siksaan sembari dengan bangga mengenakan mahkota kebanggaan dan kemenangan. Padahal, kematian sudah menunggu di ujung jalan. Mereka hidup tanpa arti! Sampai Mati!




*Majalah Sarung CSS Mora UGM

Filsafat Pembebasan

Kiranya, banyak pemikir yang sinis terhadap postmodernisme. Bahkan, dalam kamus The Modern-Day Dictionary of Received Ideas merumuskan bahwa kata postmodernisme tiada mempunyai arti. Jadi gunakan saja sesering mungkin, semaumu.

Namun, tidak demikian bagi I. Bambang Sugiharto. Ia berusaha mengulas ihwal postmodernisme dengan tuntas. Buku yang berjudul Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat ini berusaha membukakan mata pembaca bahwa akar masalah filsafat postmodern terletak pada bahasa. Lebih jauh, inti segala kegiatan bahasawi ialah pada metafor.

Stephen Toulmin, seorang penulis yang mencoba menjelajahi sejarah ide dasar berujar bahwa sejak 1720 hingga jauh ke dalam abad 20, sebagian besar filsuf dan ahli ilmu pengetahuan alam terus mempertahankan, dengan satu dan lain cara, investigasi mereka yang meletakkan kemanusiaan terpisah dari alam. Relasi keterpisahan seperti itu mengakibatkan relasi tuan hamba yang diperantarai oleh bahasa, dengan konsep serta identitas yang dibuat olehnya.

Bahasa dianggap terbatas untuk mendeskripsikan alam. Oleh karena itu, Sugiharto lebih memandang fungsi transformatif bahasa ketimbang fungsi deskriptifnya. Dalam fungsi deskriptif ini, metafor menjadi alat jajah yang terpenting. Oleh sebab itu, metafor harus dilihat sebagai peristiwa transformasi yang selalu ditandai oleh, meminjam istilah Ricoeur, kebenaran yang bersitegang (tensional truth).

Pada dasarnya dalam rangka memahami dirinya dan alam, manusia tidak mempunyai akses langsung murni dan rasionalitas sendiri yang cukup, bukan sesuatu yang pada dirinya sendiri memadai sebagai cermin untuk memahami realitas. Akibatnya, mau tak mau, cara dasar manusia untuk memahami alam dan dirinya hanyalah melalui metafor, yaitu dengan cara mempersamakan sesuatu yang lain, yang lebih dimengertinya, yang sebenarnya bukan hal itu sendiri.  Seperti kata Nietzsche, bahwa konsep bangkit melalui penyamaan apa yang tak sama. Padahal, katanya lagi, alam tak mengenal bentuk, tak mengenal konsep, hanya mengenal “sebuah X” yang tak akan tercapai dan terbatasi bagi dan oleh kita.

Oleh sebab itulah, filsafat dewasa ini harus mengarah ke pembebasan. Baik dari penjajahan alam oleh manusia serta manusia oleh manusia, terutama terkait ihwal kebahasaan tentunya. Inilah yang coba ditawarkan oleh Sugiharto.

Entah mengapa, tulisan orang macam Sugiharto, F. Budi Hardiman, hingga A. Setyo Wibowo selalu renyah. Meski yang diramu dan disajikan ialah penganan yang mengenyangkan batok kepala. Bagi orang-orang awam macam saya tentu sajian ini sangat pantas untuk dikunyah. Terlebih, tema postmodernisme yang kali ini diangkat oleh Sugiharto selalu selalu menawarkan dua hidangan, antara nihilis-dekonstruktif serta revisionis. Sebagai penghancur modernisme atau penerus serta perevisi modern.

Bila prakira saya tak salah, karena masih menduga dan meraba-raba karena masih tak tahu apa-apa, Sugiharto ingin menawarkan kemerdekaan alam dan manusia. Membebaskannya dari konsep, identitas, serta bahasa. Dengan begitu, sebagai orang yang terlahir di Timur, dengan lantang saya akan memekikkan seperti yang diucapkan dalang edan Sudjiwo Tedjo tanpa tedeng aling-aling, “Jancuk!”. Atau, mari membuat puisi, karena bahasa putik mampu menjangkau barang sejenak, suatu cakrawala yang selalu menjauh, di mana dunia dapat langsung—tanpa didekati dengan perantaraan konsep—hadir di dalam dan bersama kita, kata Goenawan Muhammad.