Mainan Kasih Sayang dan Kebahagiaan

Kamis, 24 Februari 2011

Unsur pertama yang khas dalam modernisasi, yang membedakannya dari transformasi-transformasi sosial lainnya selama sejarah, adalah terbentuknya dua subsistem yang semakin tidak terkuasai dan semakin mengkolonisasikan dunia kehidupan. Subsistem ekonomi pasar (uang) dan subsistem kekuasaan administratif (negara birokratis) menjadikan warga masyarakat modern semakin mengarahkan tindakannya pada pertimbangan ekonomis dan penyesuaian pragmatis dengan peraturan-peraturan birokasi negara. (Franz Magnis Suseno, Majalah Basis edisi november-desember 2004)

                Setidaknya, ungkapan tersebut sedikit mewakili film Kane yang dibintangi, disutradarai, dan diproduseri oleh Orson Welles pada tahun 1941. Charles Foster Kane, tokoh utama dalam film, telah mempunyai kedua subsistem tersebut dengan uang dan kekuasaan. Kane nampaknya tidak sudi terkolonisasi dunia kehidupan, sebaliknya, ia ingin mengkolonisasi. Boleh jadi, itulah gambaran masyarakat modern saat ini dengan kerakusan tiada hentinya. Namun, semua yang dimiliki oleh Kane tidak begitu saja tercipta seketika, penuh lika-liku dan keunikan.
            Awalnya, Kane merupakan seorang anak desa yang pas-pas-an. Ibunya, mengharapkan Kane di masa kelak dapat mengenyam pendidikan dan menggapai masa depan gemilang. Dengan terpaksa ibu Kane merelakannya untuk diasuh oleh Thacther, begitupun Kane, dengan terpaksa mengasuhkan diri atas kehendak ibunya, meski pada awalnya ia meronta-ronta menolaknya. Setelah tumbuh hingga berusia 25 tahun, Kane diwarisi Tuan Thacther sebagian kekayaannya yang berupa Thatcher & Company. Namun, si gagah Kane lebih tertarik dan melirik surat kabar untuk dijadikan “mainan”-nya. Ia lebih memilih untuk mengelola The New York Inquirer, sebuah surat kabar yang hampir menjemput ajal. Ia bertekad untuk memberitakan setiap peristiwa secara jujur. Tentu dengan sedikit polesan berupa hiburan dan “framing” yang menarik agar dapat memikat hati pembaca dan pelanggannya. Berkat “kesenangan”-nya dengan mainan barunya, The New York Inquirer menjadi maju dengan pesat. Kemajuan ini mencapai puncaknya saat Kane berhasil mendirikan sebuah “kerajaan media” dengan mengakuisisi 37 surat kabar, dua siaran radio, hingga pabrik kertas. Mungkin benar sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa, “senapan dalam rezim otoriter tergantikan oleh media di era demokrasi.” Dengannya—media—pula Kane dapat menggenggam demokrasi, ia memenangkan pemilihan dengan “senapan”-nya.
                Itulah mainan seorang Kane. Meski berhak kaya raya, ia lebih memilih “bermain” dahulu daripada langsung menikmatinya. Bahkan, panggung politik juga “mainan” baginya. Harta, tahta, dan wanita telah menjadi “mainan”-nya. Namun, setelah “agak dewasa,” ia mulai bosan dengan segala “mainan”-nya, ia akhirnya termenung sendirian di kursi roda. Semua “mainan”-nya menghantarkannya pada kekosongan dan kehampaan. kesendirian tanpa henti menjadikan segala “mainan” kesayangannya busuk tertelan kekosongan dan kehampaan.
                Hanya satu kata yang terucapkan oleh Kane sebelum menjemput ajalnya, yakni “Rosebud”. Usut punya usut, bahkan oleh jurnalis yang mencoba untuk menjadi detektif meski akhirnya tidak berhasil menemukan apa dan atau siapa Rosebud, ternyata, Rosebud adalah tulisan (nama) papan ski Kane sewaktu kecil. Ternyata, orang modern sesempurna ini masih menginginkan mainan masa kecilnya. Dengan ini kita dapat mengatakan, bahwa uang bukan segalanya, segalanya bukan uang dan tidak butuh uang—meski untuk membeli papan ski juga uang—jika membandingkan harta kekayaan Kane dengan harga sebuah papan ski. Semua “mainan” Kane berupa harta, tahta, dan wanita tiada berharga sama sekali jika dibanding dengan papan ski masa kecilnya. Mainan yang menjanjikan kesenangan utuh nan orisinil. Harta, tahta, dan wanita hanya pelampiasan dari Kane untuk mainan tercintanya, Rosebud.
                Atau mungkin—jika boleh menebak—papan ski tersebutlah yang menjadi saksi terampasnya kasih sayang seorang anak kepada ibu dan sebaliknya. Saksi bisu perpisahan seorang anak dengan orang tua. Perpisahan yang tercipta akibat khayalan dan impian masa depan cerah yang biasa tergambar di layar televisi otak orang-orang zaman sekarang. Hingga, perpisahan pun bukan masalah apabila demi (bayangan) kebahagiaan di masa depan. Padahal ketika mengambil contoh Kane, semua khayalan itu roboh tergantikan romantisme masa lalu. Jika berjumpa dengan Kane, mungkin mulut saya akan keceplosan berucap, “Kane, kasih sayang dan kebahagiaan tidak bakal sebanding dengan dunia beserta seluruh isinya, kawan”.

Zaman Edan

Sekolah perfilman Amerika Serikat lebih bisa dikatakan menyiapkan tenaga kerja jagad perfilman daripada mendidik tentang perfilman. Lebih tepat kiranya apabila menyematkan nama ladang bisnis daripada sekolah kepadanya. Permasalahan yang dialami oleh hampir semua “sekolah” saat ini. mem-barang-kan para pembelajar agar bisa “dijual” setelah lulus. Anehnya, barang berotak ini pun masih banyak yang secara sukarela dan senang hati “berinvestasi” untuk dijadikan barang dagangan. Kasarnya, ingin jadi pelacur pun harus membayar investasi dahulu pada pemilik rumah pelacuran. Memang semangat zaman mengharuskan manusia menjadi pelacur, kecuali sang pemilik rumah pelacuran dan orang-orang terdekatnya.


Kedatangan teknologi semakin menihilkan dinamika inovasi kreasi artistik. Teknologi adalah seni menaklukkan (hati) audiens yang dianggap sebagai “raja” sekaligus “barang”. Hollywood sebagai panglima perang terkuat saat ini, siap menantang para pesaing agar penjajahan budaya tetap terlaksana dengan semestinya. Era kolonialisasi (sering dianggap) telah usai. Padahal ia tetap ada di tengah-tengah kita. Agaknya, peribahasa “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak” lebih tepat untuk menggambarkan kebesaran penjajah yang menyimaharajakan modal di zaman ini dengan beromantisme pada penajajahan masa lalu. Sesuatu yang abstrak yang menguasai dunia adalah modal, tutur Pram. Kurang lebih seperti tuhan— abstrak—yang disembah—mungkin hampir—seluruh umat manusia. Tidak heran jika zaman modern yang diawali dan ditandai dengan pencerahan dikritik Teori Kritis Madzhab Frankfurt, yakni oleh Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno dalam Dialectic of Enlightenment bahwasanya mitos telah menjadi pencerahan dan pencerahan menjadi mitologi kembali.


Bisikan keindahan film Hollywood menjadi kartu AS US (United States) dalam rencana bisnisnya. Studio Hollywood mengupayakan penciptaan mimpi Amerika agar nampak jelas (dapat diraih) dengan para bintang sebagai alatnya. Para (aktor/aktris) bintang tak lebih seperti kucing mengagungkan yang tak berdaya. Talenta mereka dieksploitasi oleh hartawan studio untuk harta yang sebagian kecil diberikan kepada kucing berotaknya. Tak ayal, para penonton yang kelaparan dan hampir mati akibat ketahanannya berpuasa pun dibuat tak berdaya dengan menghamba kesenangan iming-iming sulap yang akan segera ditampilkan. Teknologi datang menolong untuk me-nyata-kan yang tidak nyata. Kualitas ide pun dikubur secara perlahan hingga batas terdalam olehnya. Tak urung, zaman modern yang beranak teknologi pun telah dikritik juga oleh Adorno dan Horkheimer karena telah mendominasi, temasuk di dalamnya terhadap alam. Meski mereka berdua secara jelas mengakui adanya kebutuhan makanan, pertanian, dan industri—bagi teknologi secara umum—mereka membedakan penguasaan alam atau –lebih merdunya—bersahabat dengan alam dan dominasi terhadapnya. Seandainya saja saat ini mereka masih hidup, mungkin bakal tidak sudi membeli AC dalam menghadapi panasnya iklim akibat pemanasan global. (hehehehe)


Panglima Hollywood semakin tiada tanding dengan persenjataan berbagai media yang turut menyokongnya. Padahal, industri perfilman tak ubahnya industri mobil yang berorientasi pada keuntungan dan perkembangbiakannya. Mobil yang terlihat besar dan mengkilap setelah jadi yang tidak terlihat dibalik kapnya atau saat masih dalam ruang pemotongan. Industri perfilman hanya cukup mengandalakan tampilan hebat dan indahnya agar laku keras di pasaran. Kilapan dan keindahannya sudah cukup untuk memikat seseorang. Ia tak lebih dari sebuah kebohongan yang menawarkan kehampaan. Hollywood merupakan bisnis beruanglingkup seluruh dunia yang memproduksi nilai-nilai Amerika. Dengan demikian, budaya dan nilai lain yang tidak memiliki panglima sekaliber Hollywood yang dapat menandinginya akan kalah dan menjadi jajahannya. Dunia telah dibentuk untuk menyasarkan manusia. Sungguh, hidup di belantara rimba berlogika, ber-sains, dan berobjektif (saja) memang sangat susah. Apakah ini yang disebut Zaman Edan?

Dibalik Peristiwa 10 November 1945

Judul Buku : Resolusi Jihad Paling Syar’i
Penulis : Gugun El-Guyanie
Penerbit : Pustaka Pesantren
Tahun : Cetakan I, 2010
Tebal : xiv + 128 halaman

Resolusi Jihad berperan penting dalam mengobarkan semangat 10 November 1945 arek-arek Surabaya.

Siapa yang tidak tahu Hari Pahlawan 10 November dengan Bung Tomo sebagai tokoh legendarisnya? Namun, siapa yang tahu tentang Resolusi Jihad? Barangkali banyak yang tidak tahu tentang Resolusi Jihad NU yang dideklarasikan oleh para kiai se-Jawa dan Madura pada tanggal 22 Oktober 1945, sebelum peristiwa bersejarah 10 November. Buku Gugun El-Guyanie ini mencoba melakukan penelusuran terhadap sejarah yang terlupakan untuk menyingkap tabir sejarah kepahlawanan negeri ini.

Adagium yang berbunyi “sejarah selalu diciptakan oleh penguasa” agaknya memang benar adanya di negeri ini. Masyarakat Indonesia sengaja dipikunkan dengan kurikulum pendidikan sejarah. Sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah tidak pernah mengenal Resolusi Jihad, apalagi KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri Organisasi Nahdlatul Ulama dan ketua Masyumi yang dipercaya sebagai penasehat PETA (Pembela Tanah Air) sebagai pemegang komandonya. Keterangan tentang Resolusi Jihad serta KH. Hasyim Asy’ari sangat minim atau bahkan hampir tidak ada sama sekali dalam literatur sejarah Indonesia. Peran kaum tradisionalis-pesantren seakan tidak diakui oleh negeri ini. Meskipun banyak kiai yang mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah. Penguasa negeri dan masyarakat yang melupakan sejarah Resolusi Jihad dari tinta emas sejarah menjadikan penghargaan tersebut tidak berarti.

NU sendiri lahir dari tiga embrio pergerakan, yakni Nahdlatul Wathan yang menjadi spirit politik nasionalis, Taswirul Afkar sebagai spirit intelektual pendidikan, dan Nahdlatut Tujjar yang menjadi spirit ekonomi sebagai wujud respon kepedulian dan kepekaan ulama atas situasi dan kondisi yang dialami oleh masyarakat Indonesia akibat penjajahan sebelum lahirnya NU. Nahdlatul Wathan (Pergerakan Tanah Air) lahir pada tahun 1914 dan pada nantinya melahirkan Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang diprakarsai oleh KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1924. Para kaum tradisionalis-pesantren telah lebih dahulu memiliki kesadaran nasionalis yang melampaui kepentingan-kepentingan primordial yang diakomodasi oleh organisasi kedaerahan yang banyak beridiri pada masa tersebut.

Hal tersebut tidak bisa terlepas dari keislaman orang NU. Islamnya orang NU adalah Islam yang Indonesia. Bagi orang NU, menjadi Islam seratus persen berarti menjadi nasionalis seratus persen karena Hubbul Wathan Minal Iman (mencintai negara adalah sebagian dari iman). Sikap nasionalisme dan anti penjajah inilah yang nantinya melahirkan Resolusi Jihad. Dalam konteks Resolusi Jihad, NU menjadikan pengertian jihad yang sering dikutip Gus Dur dari kitab fathul mu’in sebagai rujukan, yakni, “daf’u dlarar ma’bumin musliman kana au ghaira muslim” (melindungi kehormatan orang-orang yang perlu dibela, baik Muslim maupun non Muslim). Dengan kata lain, berjihad melindungi kehormatan seluruh bangsa Indonesia, baik yang Muslim maupun non Muslim, asalkan satu bangsa, satu nasib, seperjuangan.

Resolusi Jihad NU terdiri dari lima butir, Pertama, Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus wajib dipertahankan. Kedua, Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan. Ketiga, musuh Republik Indonesia, terutama Belanda yang datang dengan membonceng tugas-tugas tentara Sekutu (Inggris) dalam masalah tawanan perang bangsa Jepang tentulah akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia. Keempat, Umat islam terutama Nahdlatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia. Kelima, kewajiban tersebut adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban tiap-tiap orang Islam (fardlu ‘ain) yang berrada pada radius 94 km (jarak dimana umat Islam diperkenankan sembahyang jama’ dan qasar). Adapun mereka yang berada diluar jarak tersebut berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak radius 94 km tersebut (hal 17-18 dan 74-75).

Fatwa tersebutlah--setidaknya menurut Gugun-- yang mendorong masyarakat Surabaya pada khususnya, dan Jawa Timur pada umumnya, untuk terlibat dalam perang 10 November 1945. Semangat religiusitas dan nasionalisme tersebut lah yang membawa Surabaya menjadi kota pahlawan dan kota santri. Perlu diingat bahwasanya NU didirikan di Jawa Timur pada tahun 1926. Dengan demikian, kota Surabaya memiliki nilai khas yang unik, baik dari segi politik, budaya, maupun religiusitasnya. Tidak heran jika hampir separo komandan PETA adalah para kiai yang merupakan bagian dari laskar Hizbullah-Sabilillah yang pada nantinya memberikan sumbangan besar bagi TNI karena sebagian besar anggotanya berasal dari PETA.

Menurut Bruinessen, Resolusi Jihad tersebut berdampak besar dalam mengobarkan semangat 10 November 1945. Sayangnya, Resolusi Jihad ini tidak mendapatkan perhatian yang layak dari para sejarawan (hal 34-35 dan 98). Tidak heran, jika Jenderal (Purn) ZA Maulani pernah mengatakan bahwa Indonesia sangat zalim dalam merekam perjalanan sejarah bangsanya sendiri (hal 48). Menarik untuk disimak, ketika Gugun membantah pernyataan MC Ricklefs, seorang sejarawan kontemporer dengan karya berjudul Sejarah Indonesia Modern yang seringkali dijadikan buku pegangan sejarah oleh mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia, bahwa kepemimpinan barisan Hizbullah didominasi oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah dan anggota-anggota kelompok PSII dari masa sebelum perang yang pucuk kepemimpinannya dipegang oleh Agus Salim. Padahal, barisan Hizbullah dipimpin oleh KH. Zaenal Arifin dan pemimpin tertinggi Sabilillah adalah KH. Masykur. Dengan bantahan Gugun, begitu ia akrab disapa, setidaknya telah terbuktikan bahwa perguruan tinggi di Indonesia telah sedikit tertular “wabah pikun nasional”.

Namun, apakah makna nasionalisme menurut perspektif para pendiri NU. Apakah yang dimaksud dengan wathan adalah negara (state)? Atau bangsa (nation)? Atau negara bangsa (nation-state)? Bahasan yang belum “dituntaskan” oleh Benedict Anderson dan hanya dimaknai sebagai Komunitas Terbayang. Namun, nasionalisme ini pula yang akan menjadikan kita tahu, mengapa buku ini diberi judul “Resolusi Jihad Paling Syar’i” oleh Gugun. Jihad dengan alas nasionalisme, bukan jihad yang dalam beberapa tahun ini berbelok menjadi terorisme yang malah merongrong rasa persatuan negeri dan nasionalisme itu sendiri.

Meski Gugun merupakan salah seorang warga nahdliyyin, buku ini sepatutnya tidak hanya dipandang sebelah mata sebagai opini dari orang NU belaka. Pasalnya buku yang merupakan skripsinya pada jurusan Jinayah Siyasah (Pidana Tata Negara Islam) Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini merupakan karya ilmiah yang memenuhi standar keobjektifan. Tentu dengan sedikit menaburi bumbu skeptisisme karena kedekatan emosional Gugun dengan NU. Terlepas dari itu semua, buku ini selayaknya diapresiasi oleh negeri ini sebagai karya sejarah yang berupaya membuka tabir gelap sejarah kepahlawanan Indonesia. Sudah saatnya negeri ini meluruskan sejarah dan mengobati “wabah pikun nasional” yang dideritanya.

Warning: Keisengan dan Keseloan

Kiranya, apa yang menarik dari sebuah film kartun? Sedang, kemarin, ibu dan nenek menyebutnya film setan karena penayangannya tepat di waktu sholat maghrib.

              Perkenalan dimulai dari pembacaan sewaktu SMA (pernah SMA?!). Berlanjut menjadi kegemaran dikarenakan oleh seorang teman yang menjadi “bandar” komik. Hingga sekarang. Dibantu oleh “Mbah Google” demi mendapatkan komik versi digital untuk mengisi keseloan yang ada.

              Apalagi kalau bukan One Piece. Cerita bajak laut yang menginginkan harta karun One Piece untuk menjadikannya Raja Baja Laut. Entah tertular oleh mata kuliah kajian film yang menganjurkan menonton film dengan agak serius. Misalnya dari pembacaan tetang Iron Man yang lalu. Ataupun yang lainnya. Terdorong untuk menonton One Piece dengan sedikit kadar porsi keseriusan. Pun, menggarap sebuah film bukanlah kebetulan untuk iseng-isengan seperti penulis (ini). Apalagi, film kartun ini digarap di sebuah negara penghasil komik dan film kartun. Seakan komik hanya ada di negara ini. Jepang.

              Jepang. Negara Asia yang dengan gagahnya menantang Eropa yang telah “berkuasa” sejak revolusi inggris dan masa pencerahan. Mungkin saja, One Piece ini adalah sebuah “cultural counter” atau semacam pembendung sekaligus pelawan bagi Eropa. Mungkin.

              One Piece. Sebuah judul yang (sudah) agak tidak jelas. Secara serampangan karena ketidakfahaman dan ketidakmampuan berbahasa asing, One= Satu, Piece= Bagian, dan One Piece= sebuah bagian (?!). Mungkin akan menjadi jelas bagi otak yang mampu. Namun, bagi otak pembaca dan penulis (ini), agaknya memang belum mampu tercerna dengan baik.

               Pun, nampaknya, harta karun tersebut tak kunjung menampakkan kejelasannya. Apakah ia sebuah tumpukan emas, intan berlian, ataupun barang berharga nan bernilai materi lainnya. Luffy, begitu ia akrab disapa, tokoh utama dalam film ini, berjuang mati-matian untuk menjadi Raja Bajak Laut. Meskipun, hingga sekarang, Raja Bajak laut “terantagoniskan.”

               Gol D. Roger, seorang Raja Bajak laut telah diadili dengan pancungan di sebuah altar penghakiman oleh Pemerintahan Dunia. Untungnya, kebetulan, One Piece yang telah tertonton kemarin adalah eksekusi anak Gol D. Roger, Gol D. Ace, saudara Luffy, si tokoh utama. Ada yang aneh dan keluar dari mainstream—setidaknya menurut penulis yang iseng ini. Mengapa pembuat film yang sejatinya komik ini seakan ingin membunuh tokoh utama di akhir cerita? Bagaimana tidak. Bukankah ketika One Piece diperoleh Luffy, si Raja Bajak Laut akan mati tereksekusi seperti Roger? Lantas, untuk apa harta karun kematian ini?

               Tiba-tiba pikiran begok iseng-iseng mengajak berbincang si Selo. “Kebebasan, lo Selo. Laut adalah simbol kebebasan yang tiada batas untuk melakukan semua keinginan.” Lantas, “untuk apa mencari One Piece di tengah kebebasan tiada batas itu, Pikiran Begok? Mati?,” “Bukankah kebebasan harus terbatasi dan tergunakan, lo Selo? Bukankah kamu telah diajari khoiru an-nasi ‘anfa’uhum linnas (sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi kemanfaatan bagi manusia lainnya). Minimal berguna sebelum mati. Meski cita-cita kebergunaan atau kemanfaatan itu harus ditebus dan sekaligus menjadi kematian, lo Selo. Mulia bukan?” “Lantas untuk apa, dengan cara apa, gok Begok?,” “Ya untuk memberi kemanfaatan bagi warga seluruh bajak laut, mengayomi mereka dengan kerajabajaklautanmu, menentang penguasa zaman dan zamannya sekaligus dengan gagah berani dan tiada henti seperti Luffy. Serta mempunyai posisi tawar dengan Pemerintahan Dunia? Nikmat bukan? Hidup bebas, mempunyai nilai kemanfaatan bagi orang banyak dan nilai tawar dengan penguasa? Apalagi penguasa zaman. Alangkah nikmatnya kematian berbekal kemanfaatan?” Si Selo hanya mengangguk-angguk setengah mengamini usulan Si Begok.

Lanjutkan keisengan dan keseloan.
                Drama eksekusi Portgas D. Ace, alias Gol D. Ace berjalan mendebarkan dengan peperangan antar dua kubu, pemerintahan dan bajak laut. Pemerintah dengan “seragam” dan “persenjataan lengkapnya” melawan para bajak laut dengan “kesederhanaan,” “ketidakteraturan,” “keacak-acakan,” “kebersamaan,” “kekreatifan,” ”kearifan,” dan “Ke-An yang lainnya.” Mirip kiranya dengan perang Indonesia melawan penjajah kemarin. Mirip kiranya dengan perkotaan dan pedesaan. Mirip kiranya dengan tradisional dan modern. Mirip kiranya dengan penguasa dan rakyat. Mirip kiranya dengan zaman.

                Peperangan untuk memperebutkan anak dari si Raja Bajak Laut Gol D. Roger dan Portgas D. Rouge. Cucu dari Vice Admiral Legendaris, Monkey D. Garp, dari pihak pemerintahan musuh para bajak laut. Pengasuh kedua cucunya, Ace dan Luffy sewaktu keduanya masih bocah. Ace anak Raja Bajak Laut, musuh nomer wahid Pemerintahan Dunia. Sedang, Luffy bernama lengkap Monkey D. Luffy merupakan anak Sang Revolusioner Monkey D. Dragon, buronan nomer wahid Pemerintahan Dunia. Ia—Luffy—sendiri sedang mendaki tangga mengikuti jejak Bapaknya. Rumit serumit penulisnya. Sungguh keluarga yang unik, lucu, rumit, aneh, dan tentunya, Edan.

                Pemenang peperangan akan bergelar Keadilan. Ace adalah simbol Keadilan yang diperebutkan oleh kedua kubu. Pemerintah yang berusaha “memberandalkan” bajak laut di mata dunia. Bajak laut yang berusaha keras memperoleh sejumput keinginan dan kebebasan. Pemerintah yang melabeli dirinya sebagai Keadilan Absolut. Bajak laut yang tidak mempedulikan keadilan dan tidak tahu beban Keadilan yang berada dipundaknya, asal kebutuhan, keinginan, dan kebebasan tergenapi.

                Bagaimanakah dengan Keadilan pada saat ini? bukankan ia tersempitkan dengan uang dan kekuasaan? Bukankah sudah mirip? Untuk melakukan penindasan terhadap yang tidak bersumberdaya. Berusaha sekuat tenaga atas nama Keadilan versi dirinya. Sedang, musuh yang dihadapi terlalu polos dan lugu untuk memaknai Keadilan yang sebenarnya berada dipundaknya. Pun, Terkadang harus menyerahkan keadilan yang berada di pundaknya untuk dijadikan sesaji bagi penguasa yang berduit atau duit yang berkuasa. Ayolah! Kamu Luffy, kawan. Bajak Laut. Jangan memalukan dan mudah menyerah!

                Jangan menyerah melawan kegilaan pemerintah yang dipersenjatai meriam, media, pasukan, seragam, dan keteraturan. Lihat saja di adegan peperangan memperebutkan Ace. Bagaimana tidak gila. Bartholomew Kuma, seorang Sichibukai, salah satu pasukan terhebat dan mengerikan itu diciptakan dengan Bibel di tangan. Admiral Sengoku dengan perubahannya menjadi Budha. Ternyata pemerintah mempunyai pasukan yang agamis. Semoga agama-agama umat manusia tidak dijadikan senjata oleh pemerintah. Oleh penguasa. Oleh zaman.

                Meskipun pemerintah telah menyiarkan lewat media tentang “kebrandalan” kita. Acuhkan saja. Anjing menggonggong bajak laut berlalu. Aku ya aku, kamu ya kamu, dia ya dia, mereka ya mereka, kalian ya kalian, asalkan, kita ya kita, kawan. Kita telah disediakan cermin oleh Luffy dan Chobby. Dua sahabat di masa kecil. Tetap sahabat di masa dewasa. Meski “diformalkan” sebagai musuh. Bukankah  sekarang musim buah formalitas dari negeri antah berantah?

                 Jalan apapun yang kamu ambil, dari manapun kamu berasal, kita tetap sahabat dan saudara. Saudara yang saling mendukung dan memotivasi. Meski harus adu pukul di panggung teater. Pukulanmu akan terasa nikmat, kawan. Meski nampak di panggung sebagai musuh. Kita akan tetap menjadi saudara semanusia, kawan. Meminum secangkir kopi, merokok beberapa batang, dan bersenda gurau selepas manggung. Untuk melepas kelelahan teatrikal kita.

                 Salahkan saja Luffy, jika anak-anak tidak bisa dan bingung bercita-cita. Cita-cita mereka hanya sebatas hidup di lautan, mendapatkan harta karun One Piece, menjadi Raja Bajak Laut, kemudian mati. Memang dasar cita-cita anak-anak begok zaman sekarang!

Film, Qur'an, Tafsiran, Sangkar

“Tidak ada yang salah dengan seekor gagak.” Dibandingkan burung yang terkurung dalam sangkar, Gagak jauh lebih baik.” Bisa menjadi seperti Gagak sudah cukup bagiku.”

--Crows Zero—
“Pertarungan jalanan dan bela diri itu beda.”

--Sherizawa—

Houzen, seragam abu-abu agak putih beserta mayoritas kebotakanmu itu sangkar. Bela dirimu juga sangkar. Sedang, Suzuran, meski terdapat keseragaman dalam Jas hitamnya. Mereka lebih “unggul” dalam “acak-acak”-annya. Sedang, pertarungan jalanan mereka telah keluar sangkar.

Putih bisa saja menjadi normal apabila ia mayoritas dari sebuah bintik Hitam pada baju. Begitupun Hitam boleh saja menjadi normal apabila ia mayoritas dari sebuah titik putih pada Jas. Difabel bisa saja menjadi tidak normal di hadapan manusia dengan fisik utuh. Seorang manusia berfisik utuh boleh saja menjadi tidak normal manakala berhadapan dengan manusia-manusia difabel. Seorang koruptor bisa saja menjadi tidak normal di hadapan manusia-manusia jujur. Seorang manusia jujur boleh saja menjadi tidak normal di hadapan manusia-manusia korup. Begitupun seterusnya. Dan seterusnya. “Normal” dan “Anomali” hanya masalah “Sisi”. Lantas, bagaimana kalau dihapuskan saja keduanya?

Jika ada orang mensinisi hiperbolis tafsiran. Maka, lahir jawaban “hanya tafsiran yang bisa diusahakan dan didapatkan.”
Dimana Titik Temu dan Pisah Antara Film dan Kitab Suci?

Bagaiman kalau mengibaratkan “Pencipta Film” sebagai “Pencipta Kitab Suci”?

Bagaimana kalau mengibaratkan Film sebagai Kitab Suci?

Lantas, yang dipunyai penonton, pembaca, sekaligus makhluk adalah tafsir mengenai lembaran-lembaran kitab suci dan deretan adegan-adegan. Tentunya, si Empunya lah yang mengetahui makna orisinil ciptaannya. Lantas, sebagai penonton film ataupun pembaca kitab suci, hanya rekaan, dugaan, tafsiran yang dipunya. Nikmati dan resapi saja tafsiran untuk bisa toleran. Jika tidak demikian, diri tak akan kuat hingga menjelmakan pribadi menjadi (sok) Tuhan. Pembunuhan dihalalkan sebagai ganjaran dari Tuhan. Sedang, yang dimilikinya hanya sebatas tafsiran. Sebut saja Derrida atupun Baudrillard yang mensinisi “simbol”, “bahasa” yang mirip dengan “tafsiran” atas keagungan “makna”. Namun, sinis mereka hanya pada “penyesatan.”

Sangkar
Sangkar, agar kamu sadar batas kemakhlukan.
Sangkar, agar kamu tak berani menyaingi tuhanmu.
Sangkar, dibuat Tuhan sebagai penanda kemakhlukan.
Sangkar, agar tahu dan sadar diri.
Sangkar, memahami keterbatasan.
Sangkar, apabila kurang luas, maka keluar lah.

Sangkar, begitu pengertian dengan penghuninya karena dibuat oleh Si Empu Sangkar Agung. ESA.

Sangkar kandungan.
Menuju sangkar gendongan.
Menuju sangkar sekolahan.
SD, SMP, SMP, Universitas, Fakultas, Jurusan.
Menuju sangkar dunia.
Jagad, bumi, negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, dusun, RW, RT.
Menuju sangkar kelompok.
Menuju sangkar pribadi.
Sangkar telah menjangkar hingga mengakar.

Hanya tinggal menunggu.
Saat dikeluarkan dari sangkar.
Saat pemusnahan sangkar.
Saat tiba kebebasan.
Hanya sesaat.
Sebelum dihantarkan pada sangkar haribaan.
Maka tiada sangkar selain sangkar.
Batas kebebasan.
Sangkar Kesejatian.
Ternyata, urip mung mampir nang kurungan.