Pedoman Menjadi Sufi Sosial

Kamis, 24 Februari 2011



Judul Buku                   : Kunci Rahasia Ketuhanan
Penulis                         : Muchammad Hormus
Penerbit                       : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan                       : I, Januari 2010
Halaman                       : xiii + 203 halaman
       Dunia sufi yang biasa diidentikkan dengan anti-sosial, menjunjung tinggi “egoisme dan hedonisme spiritual” yang menanggalkan dunia kemasyarakatan telah menjadi sebuah stigma dalam dunia keislaman. Selain juga, dunia tasawuf dan sufisme telah terstigma menjadi sebuah alat pertaubatan di hari tua, yang sebentar lagi akan menemui sang khalik. Buku yang berjudul Kunci Rahasia Ketuhanan ini tak hanya mendobrak stigma dan paradigma dalam masyarakat islam tentang dunia tasawuf dan sufi. Buku pedoman sufi ini—jika peresensi boleh menyebutnya—telah menjadi panduan bagi masyarakat muslim untuk menjadi seorang sufi sejati yang tak hanya egois dan hedon spiritual, mulai dari paling dasar hingga yang paling kompleks untuk menjadi seorang sufi sosial. Mendobrak paradigma yang mengatakan bahwa dunia tasawuf hanya diperuntukkan orang-orang tua yang akan menjemput ajal sebagai manifestasi pertaubatan. Semakin dini pembelajaran tasawuf dengan mengukur kemampuan seorang anak, baik dengan hanya membelajarinya berdzikir dan beribadah sunnah, semakin berpeluang seorang anak tersebut untuk mukasyafah dengan Allah.

      Dalam bab-bab awal buku ini, para pembaca diajak untuk menyelami dan mengikuti pedoman singkat menjadi sufi pribadi. Dasar-dasar seorang sufi diulas tuntas yang dimulai dengan menyucikan hati. Kemudian dalam bab-bab berikutnya, para pembaca akan dijadikan seorang sufi sosial yang tak menanggalkan dunia sosialnya karena keasyikannya bercinta dengan tuhan untuk mengingat kembali bahwa seorang sufi adalah manusia, bukan lah tuhan, yang mengharuskannya untuk kembali dalam dunia sosialnya dalam rangka menjalankan perannya sebagai khalifah Allah yang membawa misi rohmatan lil ‘alamin. Dengan begitu, kepedulian sosial sang sufi akan terbangun oleh perannya sebagai seorang khalifah yang haus akan keadilan dan menolak penindasan. Dunia sosial yang membuatnya turun dari keasyikannya “bercinta” dengan tuhan tanpa menanggalkan kesufiannya, dengan tetap mengingat allah di tengah-tengah keramaian dunia sosial. Kritis berjuang demi keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Perubahan dan pergolakan sosial dijalani dengan “bertapa” di tengah keramaian seolah-olah Allah menginginkan perubahan itu.

      Selanjutnya, pembaca akan dijadikan seorang ilmuwan sufi. Terus mengembangkan berbagai ilmu dengan spirit ketauhidan. Pergolakan antara Fiqih dan Tasawuf pada era Al-Ghazali dicontohkan sebagai yang ideal, dimana Al-Ghazali telah berhasil mengawinkan antara kedua kubu tersebut. Ilmu-ilmu agama dihidupkannya dengan ruh tasawuf. Tak hanya sampai disitu, buku pedoman ini juga memberikan cara pemosisian diri sebagai seorang sufi ditengah pergolakan ilmu-ilmu dunia dan ilmu-ilmu agama, dalam benturan keilmuan barat dan timur.

      Di bagian akhir, buku ini memberikan bimbingan bagaimana menjadi seorang mursyid--guru rohani--dalam menghadapi gangguan para musuh, yang dipoles dengan tulisan-tulisan pribadi ketika penulis dalam masa jahdzab-gila karena Allah- dan setelahnya, baik dalam bentuk puisi atau uraian singkat.

      Kompleksitas pedoman menjadi seorang sufi sosial adalah mainstream buku yang ditawarkan oleh penulis sebagai seorang mursyid yang melakukan proses pergulatan pemikiran dan spiritual sejak sebagai aktivis mahasiswa hingga masa jadzab dan setelahnya telah menjadi sebuah nilai plus bagi buku ini. Bahkan sampai kritik-kritiknya terhadap para sufi terdahulu semisal Abu Yazid Al-Busthami dengan ittihad dan Al-Hallaj dengan hululnya sebagai sesama Sufi.

      Dalam konteks keindonesiaan saat ini. Buku ini memberikan kritik terhadap kasus korupsi yang semakin marak di Indonesia saat ini akibat krisis moralitas bangsa dan memberikan spirit kekhalifahan untuk segera menanggalkan korupsi sebagai seorang sufi yang berperan menjadi khalifatulloh di bumi dengan spirit ketauhidan untuk menanggalkan korupsi sebagai penindasan terhadap rakyat yang bersebrangan dengan konsep Sufi Sosial, haus akan keadilan dan menolak penindasan terhadap rakyat Indonesia. Bahkan, konsep umat dalam perkembangan sosiologis menjadi bermakna sebagai warga negara yang menjadi “tanggungan” para penguasa untuk tetap mengayominya dalam rangka menjalankan perannya sebagai kholifatulloh sebagaimana rosululloh menjadi rohmatan lil ‘alamin, dan kenapa bukan rohmatan lil muslimin. Semua warga harus diayomi tanpa adanya diskriminasi, dan semua yang tertindas harus ditolong tanpa memandang SARA. Buku yang relevan dengan konteks keindonesiaan saat ini, dan menawarkan jalan keluar bagi permasalahan bangsa saat ini. Semua tulisan seorang mursyid ini telah menjadi nilai lebih buku, yang tak hanya sebuah karangan biasa.

      Namun, yang menjadi agak ganjal dalam benak saya adalah, bagaimana seorang jadzab bisa menulis sebuah karangan yang pada masa tersebut ia berstatus gila—gila karena Allah—meskipun terkadang ingatannya kembali seperti semula namun sebentar dan kemudian kembali ke keadaan semula, hilang kesadaran jiwa tertarik pada tarikan cinta dan kasih sayang ilahi yaitu jadzab. Selain itu, mengapa buku yang sebenarnya bersifat private ini diterbitkan untuk diketahui publik? Jika boleh menebak disertai rasa hormat, mungkin buku ini adalah sebagai bukti bahwasanya penulis adalah sang sufi sosial sejati, yang ingin mengembangkan kesufiannya sebagai jawaban atas kasus-kasus yang melanda bangsanya dan menyengsarakan banyak masyarakat. itulah spirit seorang sufi sosial yang haus akan keadilan dan menolak penindasan. Namun, hal ini juga menjadi sebuah paradoks, dimana ketika mengkritik Abu Yazid Al-Busthomi dan Al-Hallaj ia mengkritik dengan nafsu. Dan dengan itu pula saya mengkritiknya, apa penerbitan buku ini juga merupakan sebuah nafsu yang menjadikan kesufiannya kurang sempurna layaknya Abu Yazid Al-Busthomi dan Al-Hallaj. Namun bagaimanapun juga seorang sufi yang mampu mengendalikan ego dan hedon spiritualnya adalah seorang yang tak hanya dekat dengan Allah, namun juga dengan manusia, yang tak rela melihat orang disekitarnya tertindas dan membuatnya “turun” untuk menjalankan misinya. Tak dapat diragukan lagi, buku ini adalah sebuah sumbangsih dari sang mursyid untuk bangsanya, apalagi yang membuat bangsa ini enggan membacanya? Baca dan rasakan lah perjalanan menjadi seorang sufi sosial layaknya Sang Mursyid—penulis buku ini.

Kehidupan Gie yang Kedua


Judul            : Soe Hok Gie.....sekali lagi
                        Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya.
Penulis          : Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan R (ed.)
Penerbit        : KPG (Kepusatakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan Universitas Indonesia, ILUNI Universitas Indonesia, dan KOMPAS.
Tahun           : 2009.
Halaman        : XL + 512 halaman.

      Setelah proklamasi, kebenaran atas nama revolusi menghagemoni Indonesia, pahlawan proklamir kemerdekaanlah yang mencanangkannya, Soekarno. Segala tindakan pemerintah diatas namakan revolusi. Dan setelah memasuki era demokrasi terpimpin, kediktatoran Soekarno mulai menjadi, walaupun sebagian masyarakat membenarkan segala tindakannya karena ia adalah sang pahlawan proklamasi. Semua penentang revolusi dianggap sebagai musuh bangsa. PNI yang merupakan tunggangan politik Soekarno menjadikan PKI sebagai mitra berpolitiknya. Ia makin diktator dengan mengatasnamakan revolusi dan menggandeng PKI.
      Soekarno dilengserkan oleh ABRI dan para mahasiswa Indonesia. “panggung sandiwara” Soeharto sukses menumbangkan rezim Orde Lama dengan “partner”nya, mahasiswa. Para petinggi pergerakan mahasiswa yang ikut andil dalam pelengseran Orde Lama tersebut “dipinang” dengan kursi DPR GR. Para oportunis mahasiswa tergoda dengan kursi madu yang ditawarkan Soeharto. Mereka mengkhianati perjuangan mahasiswa.
      Pergolakan antara moral force dan political force semakin memanas setelah lengsernya Orde lama dengan “dipinangnya” para petinggi mahasiswa di DPR GR. Ialah Soe Hok Gie, salah seorang tokoh mahasiswa yang berpihak pada moral force. Para anggota PKI dikambing hitamkan dengan sebuah sandiwara, “tragedi lubang buaya.” Pembantaian massa anggota PKI pun terjadi. Soe Hok Gie yang menjadi “partner” Soeharto pun geram. Kritik-kritik terhadap pemerintahan Soeharto dilontarkannya lewat media massa. Ia seakan tak kuasa melihat ketidak adilan, termasuk ketidak adilan terhadap PKI yang dulunya merupakan “musuhnya.” Rasa ini tumbuh dalam dirnya dengan melihat penderitaan rakyat Indonesia dari dekat, terutama dengan mendaki gunung. Ia tak kuasa melihat “kepalsuan” kota Jakarta dan memilih untuk mengenali bangsa lebih dekat.
      Buku yang berjudul Soe Hok Gie Sekali Lagi merupakan refleksi kehidupan seorang idealis sejati secara kompleks yang ditulis oleh teman-teman sejawatnya ataupun teman “jauhnya” adalah mainstream buku ini, bahkan sisi lain kehidupan Soe Hok Gie pun diungkap dalam buku ini, yakni dunia percintaan Soe Hok Gie. Pada awal bagian buku, pembaca diajak para saksi mata tragedi Semeru mengikuti pendakian dan melihat kisah sedih tentang kematian seorang pejuang sejati bangsa dari dekat. Profile Gie dihidupkan kembali dalam buku ini, mulai dari Gie di lingkungan Universitas sampai dirinya sebagai seorang demonstran dan perjuangannya yang tulus didedikasikan untuk bangsa Indonesia, meski dirinya seakan “tak diakui” sebagai bagian dari bangsa ini. Tulisan-tulisan Gie sengaja dimuat kembali dalam buku ini agar para pembaca mengetahui perjuangan-perjuangan lewat tulisan-tulisan Soe Hok Gie, baik itu berupa catatan harian, tulisan di media massa, ataupun skipsinya.
      Kompleksitas buku ini, Kompleksitas profile seorang Gie yang diceritakan kembali oleh kawan-kawannya menjadi sebuah kelebihan buku ini. Profile utuh seorang Gie yang seakan tak cukup dituliskan dalam 500 halaman. Sampai dunia percintaan seorang Soe Hok Gie pun diulas. Tak hanya itu, dalam buku ini pun dilengkapi dengan tulisan orang-orang yang terilhami oleh sosok Gie termasuk Nicolas Syahputra. Bahkan buku tipis ini pun memuat sebuah resensi film berjudul GIE. Ditambah dengan tulisan-tulisan teman-teman “jauhnya” yang semakin melengkapi dan mewarnai buku ini.
      Namun, teman sejawat Gie pada saat ini pasti lah sudah berumur 60an tahun, sehingga membuat saya meragukan ingatan orang tua yang biasa mengidap pikun. Kemungkinan distorsi sangat terbuka lebar dalam buku ini. Di sisi lain, buku ini pun juga telah “mencuri” bagian-bagian buku lain yang telah ditulis sendiri oleh seorang Soe Hok Gie, sehingga pembaca cenderung akan bosan jika sudah pernah membaca karangan-karangan Soe Hok Gie.
      Tujuan dari penulisan buku ini tak lain adalah untuk menghadirkan kembali sosok Soe Hok Gie di tengah masyarakat Indonesia tertuma kalangan mahasiswa, sosok pemegang teguh idealisme yang menjadikannya sebagai pejuang sejati bangsa Indonesia. Oleh karena itu, buku ini layak dibaca oleh siapapun yang ingin memahami semangat nasionalisme seorang pemuda idealis, yaitu Soe Hok Gie. Terutama kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa pergerakan sebagai bahan renungan dalam aktivitsnya. Para pemuda sekarang adalah pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Mereka adalah “pengawas” pemerintahan di masanya, yakni mahasiswa.

Orang Miskin Dianjurkan Punah

Andaikan di bioskop-bioskop abad 21 bertengger judul Pencuri Sepeda, mungkin penjual karcisnya akan lebih memilih ngopi di angkringan sambil ngobrol bersama teman-temannya daripada bekerja menjual karcis film. Begitupun saya, jika si penjual karcis saja ingin ngopi ke angkringan, mending saya tidur saja menjamu mimpi seketika membaca judul—membosankan—film itu. Untungnya saya –sering-- disebut mahasiswa. Terpaksa niat tersebut diselipkan dalam kebosanan dengan menikmati AC ruang multimedia.

Monggo

Pasca perang dunia kedua, depresi ekonomi melanda dunia, tak terkecuali Italia yang beribukotakan Roma. Akibatnya, industri perfilman pun ikut terlanda kesulitan ekonomi hingga membuat orang-orang perfilman menjadi “ekonom” –tanpa harus kuliah-- perfilman dengan kalkulator di hatinya. Depresi ini pula nampaknya yang melatarbelakangi De Sicca memilih genre neorealism dalam Bycicle Thieves; irit biaya, tanpa polesan. Dengan menggambarkan realitas sosial pasca perang dunia II di Italia, tepatnya Roma.
            Film yang diperankan oleh Lamberto Maggiorani (Ricci), seorang pekerja pabrik, Enzo Staiola (Bruno), seorang anak yang kebetulan ditemukan Sicca di lokasi syuting, dan Lianella Carell (Maria) ini menceritakan tentang “sepeda adalah kehidupan dan hidup adalah sepeda”. Antonio Ricci tiba-tiba ditawari pekerjaan sebagai penempel poster “tanpa mengantre” diharuskan mempunyai sepeda agar bisa bekerja sebagai penempel poster. Keluarga miskin macam Ricci sebagai kepala keluarga tentunya sulit untuk mendapatkan sepeda. Apalagi di tengah himpitan ekonomi pasca perang dunia. Lengkap sudah. Maria terpaksa menjual sprei mas kawin demi mendapatkan sepeda, tepatnya pekerjaan sang suami. Ironisnya, Ricci harus puas bekerja selama beberapa jam saja karena sewaktu menempel poster di hari pertamanya bekerja, sepeda kehidupannya dicuri orang. Ia pun diharuskan mencari sepeda kehidupannya agar tetap hidup. Bersama anaknya, Bruno, ia berusaha sekuat tenaga untuk mencari sepedanya, kehidupannya.
            Memang salah satu kelebihan film bergenre neorealism adalah menampilkan segalanya apa adanya. Setelah beberapa menit menonton film ini, keadaan apa adanya inilah yang membuat saya menggugurkan kebosanan sejak membaca judulnya. Emosi saya dipaksa patuh pada penderitaan masyarakat dalam film tersebut karena keadaan serupa sedikit banyak masih ada kemiripan dengan yang terjadi saat ini, di negara ini. Pertama, dua pengamen kecil yang ditendang oleh orang dewasa saat bekerja—mengamen. Bukankah saat ini masih banyak orang jijik dan tak sudi diameni?. Kedua, sepeda Ricci yang hilang. Bukankah memang faktor kemiskinan meningkatkan aksi kejahatan dan kriminal?. Beberapa stasiun televisi di negeri ini sering memberitakan aksi pencurian, pencopetan, dan perampokan yang dilandasi oleh faktor ekonomi demi menghidupi keluarga. Tak heran jika Ricci akhirnya juga mencuri sepeda demi menghidupi keluarganya.
            Ketiga, ketidak adilan yang menimpa Ricci saat mengadukan kehilangan sepedanya pada polisi. Polisi seakan enggan jika hanya mencarikan sepeda. Sepeda kehidupan seorang penempel poster. Para polisi hanya mau jika mencarikan emas. Emas kehidupan orang kaya. Jika saja penjual rumput di desa-desa terpencil kehilangan sabitnya, mungkinkah polisi akan mencarikan?. Orang miskin harus terus menderita seperti halnya Ricci. Seperti kata Iwan Fals, “Kesedihan hanya tontonan bagi mereka yang diperkuda jabatan.” Bahkan, saat Bruno ingin kencing ketika sedang mencari-cari sepeda bersama ayahnya sambil berlarian, ia harus menahan “hajat darurat” nomor duanya tersebut untuk terus menikmati penderitaan karena orang miskin dilarang pipis. Keempat, orang miskin dilarang beribadah. Ricci mendapati orang tua yang pernah dilahatnya berbincang dengan si pencuri sepedanya di Gereja. Lantas Ricci pun berusaha mengajak pak tua keluar untuk diinterogasi, kalau perlu secara paksa. Ajakan Ricci pada pak tua tersebut sontak membuat kekhusyukan ibadah jemaat-jemaat lain terganggu. Bagaimana bisa beribadah dengan khusyuk jika perut masih kosong?. Tuhan orang-orang miskin banyak yang tergantikan oleh perut. Himpitan ekonomi mengharuskan mereka bertuhankan perut.
            Orang miskin adalah tempat salah. Ricci juga disalahkan saat si pemuda yang diyakininya adalah pencuri (berpura-pura) sakit di depan umum. Ataupun pada saat Ricci hanya ingin melihat serial number salah satu sepeda. Jika anda bersalah, limpahkan kesalahan anda pada orang miskin. Niscaya mereka akan menerimanya dengan (terpaksa) ikhlas. Saya jadi teringat acara di salah satu stasiun televisi negeri ini yang mendatangkan sepasang suami istri tuna netra miskin yang dituduh menyimpan narkoba. Melihatpun mereka tak kuasa, apalagi menyimpan narkoba. Namun, mereka tetap dipenjara bertahun-tahun. Kurang ajarnya, mereka menerimanya dengan (terpaksa) ikhlas dan menjalaninya tanpa protes selama bertahun-tahun. Mungkin kekurangajran itu pula yang dilakukan oleh beberapa tahanan yang dituduh PKI di masa kemarin.
           Orang miskin memang jarang merasakan kebahagiaan. Mereka lebih akrab dengan penindasan. Begitupun Ricci dan Bruno, untuk bahagia saja mereka harus berpura-pura. Ricci berpura-pura bahagia saat mengajak Bruno untuk makan enak di sebuah restoran malah berimbas pada ditindasnya Bruno akibat melihat salah satu orang kaya tanpa henti memakan semua makanan enak yang tersedia. Namun, Bruno harus puas dengan seporsi makanan enak demi pura-pura bahagia. Kekayaan merupakan penindas kemiskinan.
            Di tengah himpitan permasalahan, terutama masalah perokonomian, masyarakat dipaksa percaya kepada paranormal selayaknya Ricci mempercayai paranormal yang dulunya tidak ia percaya sama sekali. Semua ke—apa adanya—an ditampilkan secara natural dalam film tanpa malam dengan mayoritas adegan di luar ruangan. Ke—apa adanya—an yang mirip dengan apa yang terjadi saat ini, di negeri ini, yang menjadi kelebihan film hitam putih sederhana. Film yang tak hilang ditelan zaman. Ke--serba kurang--an pasca perang dapat dijadikan oleh Sicca sebagai kelebihan film ini.
            Orang miskin memang bukan makhluk yang langkah, akan tetapi selalu saja diusahakan menjadi langkah dan punah. Minimal anggap saja tidak ada. mereka memang bukan hewan, akan tetapi selalu saja diusahakan menjadi hewan. Kiranya memang begitu nasib orang miskin. Jikalau perlu, buatlah itu menjadi fitrahnya. Dari dulu hingga sekarang, dimanapun, Orang Miskin Dianjurkan Punah.

Sup Persaudaraan

Sistematis-Hierarkis. Itulah komentar singkat saya setelah menonton The Battleship Potemkin. Lima adegan yang saling memiliki ketergantungan dan dimulai dengan tahapan terendah hingga tertinggi, runtut-urut. Adegan pertama, Men and The Maggots, menunjukkan kekesalan para awak kapal karena baru menyadari kalau selama ini mereka makan daging yang sudah busuk dan berbelatung. Adegan ini diawali dengan orasi Vakulinchuk, salah satunya dengan kalimat orasinya “Kita, pelaut Potemkin, harus mendukung saudara-saudara kita, kaum pekerja. Kita harus berdiri di front terdepan revolusi,”. Kedua, Drama In The Harbour, menceritakan pemberontakan para awak kapal melawan petinggi-petinggi kapal. Ketiga, A Dead Man Calls for Justice, berkisah tentang penyemayaman jasad Vakulinchuk di Odessa dengan hiruk pikuk tangis orang-orang setempat. Keempat, The Odessa Staircase, menceritakan ribuan orang Odessa yang berbela sungkawa dengan melakukan aksi mogok massa serta mengirimkan bahan makanan bagi pelaut-pelaut potemkin dan menuntut balas atas kematian Vakulinchuk yang seketika dijawab tentara rezim Tsar dengan senjata api. Kelima, The Meeting with The Squardon, kematian warga Odessa mendorong awak potemkin untuk membebaskan Odessa dari kekuasaan rezim Tsar dengan kapal-kapal Squadron sebagai rintangannya –meski akhirnya urung terjadi akibat rasa persaudaraan sesama kaum tertindas yang tumbuh dalam jiwa mereka.

Film besutan sutradara asal Rusia, Sergei Einstein ini dibuat pada tahun 1925 dengan mengambil setting waktu 1905 yang merupakan salah satu babak penting dalam Revolusi di Rusia. Peristiwa yang minim perencanaan ini turut andil dalam mengangkat derajat ketidakpercayaan rakyat Rusia pada Tsarisme hingga menemukan puncaknya pada tahun 1917, yakni Revolusi Oktober 1917. Einstein yang merupakan pendukung dan propagandis revolusi dinilai sukses dalam melakukan propagandanya dengan menggunakan film, terutama kelihaiannya mengaduk emosi penonton dengan pembantaian kaum Tsar dalam adegan The Odessa Staircase. Namun, agaknya propaganda Einstein kurang mempan terhadap saya—entah karena saya menonton dengan malas-malasan dan merokok. Malah sebaliknya, yang saya lihat dan garis bawahi adalah rasa persaudaraan para awak Potemkin, Squadron, dan warga Odessa. Rasa persaudaraan yang semakin hari diobral oleh dunia materi. Disitu, saya malah melihat rasa persaudaraan yang sangat mahal, namun berbandrol murah, yakni seharga semangkuk sup. Rasa persaudaraan ini pula yang nampaknya menjadikan rakyat kecil atau tertindas tidak terkalahkan, bahkan oleh pemuka agama (adegan dipukulnya pemuka agama saat mengatakan “ingatlah Tuhan”) sekalipun, atau jangan-jangan memang itu kehendak tuhan?—entahlah. Hal ini membuat saya membayangkan Rusia di zaman tersebut layaknya suatu desa pedalaman di Kulonprogo yang pernah saya kunjungi dengan rasa persaudaraannya. Lucu, unik, menarik.

Rusia memang identik dengan komunisme, tentunya dengan Marx, Si bapak ilmu sosial yang kondang dan mengurung keilmuan sosiohumaniora dalam dirinya. Hal ini mengingatkan saya akan perlakuan negeri ini pada seorang tokoh komunis yang merupakan salah satu founding father negeri ini, Tan Malaka. “Tan adalah senior Hatta dan Soekarno, ia menulis tentang republik ini 6 tahun sebelum Hatta dan 9 tahun sebelum Soekarno,” kata Harry Poeze dalam Seminar “Tan Malaka; Sejarah yang Terlupakan” di gedung Pasca Fisipol UGM. Dalam curhatannya di pembuka Madilog, dengan nada sindiran atas perbedaan perlakuan dan fasilitas yang didapatnya dan Soekarno, ia seakan menyindir negeri ini yang tidak adil karena ketidaktahuannya. Ironis-tragis.

Bolehlah sekiranya saya membanding-samakan semangat komunisme di Indonesia(dahulu) dan Rusia (dalam film tersebut), semangat persaudaraan atas ketertindasannya. Salah satunya lewat “kata-kata sakti”-nya. Kata-kata sakti dalam film tersebut antara lain, “All for one and one for all” dan “Land is our and future is our”. Sedangkan, di Indonesia, kalimat sakti tersebut terdapat dalam lagu “Darah Rakjat” yang sudah 30 tahun lebih dilarang diputar, dimainkan, dan didengar.
Berikut sebagian liriknya:
Darah rakjat masih berdjalan menderita sakit dan miskin.
Pada datangja pembalasan rakjat jang mendjadi hakim.
Rakjat jang mendjadi hakim, ajo, ajo bergerak sekarang.
Kemenangan pasti akan datang merahlah warna pandji.
Kita merah warna darah rakjat merah warna darah rakjat.

Pada awal film Battleship Potemkin diperlihatkan kekesalan para awak kapal karena telah memakan daging busuk dan berbelatung, tal terkecuali supnya. Sup yang mengakibatkan terbunuhnya pemimpin mereka (adegan yang menampilkan tulisan “killed for a plate of soup”). Sedangkan, di akhir, film ini ditutup dengan urungnya pertempuran Potemkin melawan Squadron karena rasa persaudaraan sesama kaum tertindas. Jika demikian, saya lebih suka menjuduli film ini dengan “Sup Persaudaraan”. Lebih nikmat didengar dan dibaca saat negeri ini sedang dilanda krisis persaudaraan. Apalagi jika dimakan, pasti lezat rasanya. Daripada Battleship Potemkin (Kapal Perang Potemkin) yang sarat dan mengandung konflik.

Mainan Kasih Sayang dan Kebahagiaan

Unsur pertama yang khas dalam modernisasi, yang membedakannya dari transformasi-transformasi sosial lainnya selama sejarah, adalah terbentuknya dua subsistem yang semakin tidak terkuasai dan semakin mengkolonisasikan dunia kehidupan. Subsistem ekonomi pasar (uang) dan subsistem kekuasaan administratif (negara birokratis) menjadikan warga masyarakat modern semakin mengarahkan tindakannya pada pertimbangan ekonomis dan penyesuaian pragmatis dengan peraturan-peraturan birokasi negara. (Franz Magnis Suseno, Majalah Basis edisi november-desember 2004)

                Setidaknya, ungkapan tersebut sedikit mewakili film Kane yang dibintangi, disutradarai, dan diproduseri oleh Orson Welles pada tahun 1941. Charles Foster Kane, tokoh utama dalam film, telah mempunyai kedua subsistem tersebut dengan uang dan kekuasaan. Kane nampaknya tidak sudi terkolonisasi dunia kehidupan, sebaliknya, ia ingin mengkolonisasi. Boleh jadi, itulah gambaran masyarakat modern saat ini dengan kerakusan tiada hentinya. Namun, semua yang dimiliki oleh Kane tidak begitu saja tercipta seketika, penuh lika-liku dan keunikan.
            Awalnya, Kane merupakan seorang anak desa yang pas-pas-an. Ibunya, mengharapkan Kane di masa kelak dapat mengenyam pendidikan dan menggapai masa depan gemilang. Dengan terpaksa ibu Kane merelakannya untuk diasuh oleh Thacther, begitupun Kane, dengan terpaksa mengasuhkan diri atas kehendak ibunya, meski pada awalnya ia meronta-ronta menolaknya. Setelah tumbuh hingga berusia 25 tahun, Kane diwarisi Tuan Thacther sebagian kekayaannya yang berupa Thatcher & Company. Namun, si gagah Kane lebih tertarik dan melirik surat kabar untuk dijadikan “mainan”-nya. Ia lebih memilih untuk mengelola The New York Inquirer, sebuah surat kabar yang hampir menjemput ajal. Ia bertekad untuk memberitakan setiap peristiwa secara jujur. Tentu dengan sedikit polesan berupa hiburan dan “framing” yang menarik agar dapat memikat hati pembaca dan pelanggannya. Berkat “kesenangan”-nya dengan mainan barunya, The New York Inquirer menjadi maju dengan pesat. Kemajuan ini mencapai puncaknya saat Kane berhasil mendirikan sebuah “kerajaan media” dengan mengakuisisi 37 surat kabar, dua siaran radio, hingga pabrik kertas. Mungkin benar sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa, “senapan dalam rezim otoriter tergantikan oleh media di era demokrasi.” Dengannya—media—pula Kane dapat menggenggam demokrasi, ia memenangkan pemilihan dengan “senapan”-nya.
                Itulah mainan seorang Kane. Meski berhak kaya raya, ia lebih memilih “bermain” dahulu daripada langsung menikmatinya. Bahkan, panggung politik juga “mainan” baginya. Harta, tahta, dan wanita telah menjadi “mainan”-nya. Namun, setelah “agak dewasa,” ia mulai bosan dengan segala “mainan”-nya, ia akhirnya termenung sendirian di kursi roda. Semua “mainan”-nya menghantarkannya pada kekosongan dan kehampaan. kesendirian tanpa henti menjadikan segala “mainan” kesayangannya busuk tertelan kekosongan dan kehampaan.
                Hanya satu kata yang terucapkan oleh Kane sebelum menjemput ajalnya, yakni “Rosebud”. Usut punya usut, bahkan oleh jurnalis yang mencoba untuk menjadi detektif meski akhirnya tidak berhasil menemukan apa dan atau siapa Rosebud, ternyata, Rosebud adalah tulisan (nama) papan ski Kane sewaktu kecil. Ternyata, orang modern sesempurna ini masih menginginkan mainan masa kecilnya. Dengan ini kita dapat mengatakan, bahwa uang bukan segalanya, segalanya bukan uang dan tidak butuh uang—meski untuk membeli papan ski juga uang—jika membandingkan harta kekayaan Kane dengan harga sebuah papan ski. Semua “mainan” Kane berupa harta, tahta, dan wanita tiada berharga sama sekali jika dibanding dengan papan ski masa kecilnya. Mainan yang menjanjikan kesenangan utuh nan orisinil. Harta, tahta, dan wanita hanya pelampiasan dari Kane untuk mainan tercintanya, Rosebud.
                Atau mungkin—jika boleh menebak—papan ski tersebutlah yang menjadi saksi terampasnya kasih sayang seorang anak kepada ibu dan sebaliknya. Saksi bisu perpisahan seorang anak dengan orang tua. Perpisahan yang tercipta akibat khayalan dan impian masa depan cerah yang biasa tergambar di layar televisi otak orang-orang zaman sekarang. Hingga, perpisahan pun bukan masalah apabila demi (bayangan) kebahagiaan di masa depan. Padahal ketika mengambil contoh Kane, semua khayalan itu roboh tergantikan romantisme masa lalu. Jika berjumpa dengan Kane, mungkin mulut saya akan keceplosan berucap, “Kane, kasih sayang dan kebahagiaan tidak bakal sebanding dengan dunia beserta seluruh isinya, kawan”.